Ludruk

Tags: seni budaya, kesenian, tarian, ludruk

Ludruk

seni budaya, kesenian, tarian, ludruk

Ludruk memang identik dengan kesenian yang lahir di Jawa Timur, namun terkait dengan asal-usulnya kesenian ini ada beberapa versi penjelasan. Ada yang mengatakan Ludruk lahir di Jombang. Namun, ada pula yang bilang ludruk dilahirkan di Surabaya.

Ada versi lain yang menyebutkan, ludruk sudah muncul tahun 1890. Penggagasnya bernama Gangsar, seorang tokoh yang berasal dari desa Pandan, Jombang. Gangsar pertama kali mencetuskan kesenian ini dalam bentuk ngamen dan jogetan. Versi lain menyebutkan, ludruk dipelopori oleh orang bernama Santik, petani dari Desa Ceweng, Kecamatan Goda, Kabupaten Jombang, pada 1907. Waktu itu, Santik bersama dua kawannya, Pono dan Amir, mengamen dari desa ke desa.

Terlepas dari asal usulnya, dalam pementasannya Ludruk diperagakan oleh sebuah grup kesenian pada sebuah panggung. Ludruk dimainkan oleh laki-laki dan berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. Apabila cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng) dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup sehari-hari (biasanya) kalangan wong cilik yang diselingi dengan lawakan dan diiringi oleh gamelan sebagai musik pengiringnya.

Dialog/monolog dalam ludruk lebih bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa keena menggunakan bahasa khas Surabaya, meski kadang-kadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk membuat kesenian ini mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkutan umum).

Biasanya sebuah pementasan Ludruk akan diawali dengan Tari Remo, dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerankan seorang jagoan Madura seperti “Pak Sakera” . Kesenian ludruk ini juga dapat dipentaskan dari kampung ke kampung. Dimana sekitar tahun 1980-an, tercatat sebanyak 789 grup ludruk, namun seiring dengan waktu, jumlah grup dari ludruk ini pun semakin berkurang. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang.