Home

Gambang Semarang

Tags: gambang semarang, kesenian musik semarang, alat musik tionghoa

Gambang Semarang

Anda mungkin pernah mendengar lagu Gambang Semarang. Sebuah lagu yang cukup terkenal dari Semarang. Lagu tersebut menceritakan tentang bagaimana pesona Gambang Semarang yang memukau penontonnya. Gambang Semarang tidak jauh berbeda dengan Gambang Kromong dari Jakarta, yaitu orkes yang memadukan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan.

Salah satu hal yang menarik serta membedakan Gambang Semarang dari Gambang Kromong, karena sebagian besar penari dan penyanyinya kaum trans-seksual. Gambang Semarang sebagai kesenian musik Semarang yang tak bisa lepas dari Gambang Kromong Betawi. Seiring perkembangannya, Gambang Semarang dipadukan pula dengan seni gerak tari, yang pada masa lampau ditarikan oleh penari-penari transeksual.

Sekitar tahun 1945, Gambang Semarang sempat meraih puncak kejayaannya, bahkan melahirkan ikon Gambang Semarang pada saat itu, yakni Nenny dan Mpok Royom. Namun tak bertahan lama, ketika pentas di Magelang dan dibombardir tentara Jepang, personil Gambang Semarang pun tercerai-berai, begitu pula dengan Nenny dan Mpok Royom yang hingga kini entah kemana.

Sejak 1930 Gambang Semarang telah ada, dan diprakarsai oleh Toako Lie Hoo Soen, orang kepercayaan raja gula Asia Tenggara saat itu, Oei Tiong Ham. Saat itu, Gambang Semarang pertama kali dipentaskan di gedung Pertemuan Bian Hian Tiong di Gang Pinggir, sebagai sebuah wujud kesenian yang menggabungkan dua kesukuan, pribumi dan peranakan Cina.

UNRESPONSIVE NOTIFICATION

ID-Payment-Option

Pembayaran dengan
V
Pembayaran dengan

ID-Other-Destination-Link

SPLASHSCREEN


Or skip this page and