Rebana Betawi

Tags: jakarta, kesenian jakarta, rebana betawi

Rebana Betawi

jakarta, kesenian jakarta, rebana betawi

Di antaranya jenis musik Betawi yang populer di Jakarta, Rebana ini adalah salah satunya. Rebana adalah sebuah alat musik berkulit yang bernafaskan Islam yang digunakan sebagai sarana upacara peringatan keagamaan Maulid Nabi Muhammad SAW, atapun pernikahan, khitanan, kenduri dan sebagainya. 

Walaupun populer, siapa sangka ternyata asal usul Rebana ini masih kontroversi karena banyak muncul perbedaan pendapat di kalangan pakar kesenian Betawi. Ada yang berpendapat Rebana ini diciptakan oleh Pak Saiman dari aspirasinya ketika air hujan rintik-rintik diatap rumahnya yang bocor. Namun pernyataan tersebut tidak akurat. Tidak disinggung siapa itu Pak Saiman, dimana tempat tinggalnya dan sejak kapan memperkenalkan kepada khalayak dan kapan mulai dikembangkan.

Ada pula yang mengatakan Rebana ini bukanlah ada karena pengaruh dari Bali, akan tetapi pengaruh dari Arab, terutama karena lagu-lagu pujian-pujian terhadap nilai yang diiringi dengan rebana, kendati pun di Arab tidak ada jenis musik yang dinamakan Rebana.

Pendapat lain mengatakan, Rebana justru bukan berasal dari Bali, atau bukan dari Betawi, akan tetapi berasal dari daerah Sumatera Selatan, yang berfungsi untuk upacara-upacara, salah satunya Maulud dan lain-lain. Sebagai alat musik pengiring nyanyian yang mempergunakan prosa-prosa Arab tinggi (bukan ayat-ayat Al Quran) karena mulanya Rebana banyak digelar di Masjid-masjid, Surau dan di tengah komunitas Muslim. Walaupun musik Rebana lebih kencang ditindih puji-pujian yang memuliakan asma Allah dan menggunakan bahasa Arab, namun ada pula yang mengatakan Rebana bukan dari Timur Tengah.

Variasi Rebana

Akan tetapi terlepas dari beragam pendapat di atas, Rebana Betawi ini terdiri atas bermacam-macam jenis dan nama, seperti rebana ngarak, rebana dor, dan rebana biang. Sebutan rebana ketrimping, mungkin, karena adanya tiga pasang ´kerincingan´, yakni semacam krecek. Rebana ngarak digunakan untuk mengarak pengantin pria menuju rumah pengantin wanita. Disebut Rebana Biang, karena bentuknya yang besar. Jenis musik perkusi dan bermembran ini biasa dimainkan di kampung-kampung, di Masjid, Surau dan tempat-tempat lainnya yang memungkinkan bisa diakses untuk menghibur. Mengiringi berbagai permainan dengan nyanyian dan gerak tari.

Di Betawi, permainan rebana biasanya dilakukan dengan menyanyikan lagu-lagu kasidah dan seringkali dalam berbagai keriyaan yang bertalian dengan budaya Islam, seperti Mauludan, Lebaran, Khitanan, Pernikahan, dan lain-lain. Selain Rebana Biang yang berukuran gede bergaris tengah mencapai 20 s/d 25 Cm, juga masih ada Rebana Ketimpring berukuran sedang dan pinggirannya terdapat ombyokan logam berbentuk bulat tipis.

Selain itu ada jenis Rebana Betawi lainnya seperti Rebana Jati, Rebana Rakep, Rebana Gedak, dan banyak lagi nama Rebana-rebana lainnya menurut istilah dan fungsinya bagi masyarakat Betawi tempo dulu menjadi kegembiraan dan kebanggaan. Rebana Jati – untuk upacara-upacara, Rebana Rakep – untuk mengarak/mengiringi pengantin, Rebana Gedak – mempergunakan pantun Indonesia.