Keroncong Tugu

Tags: jakarta, kesenian jakarta, keroncong tugu

Keroncong Tugu

jakarta, kesenian jakarta, keroncong tugu

Jika kota Solo atau Semarang punya musik keroncongnya sendiri, nah di Jakarta ini tidak mau ketinggalan dengan Keroncong Tugunya. Tercipta ratusan tahun yang lalu, musik keroncong ini masih setia unjuk gigi di tengah masyarakat.

Meruntut akar dari musik Keroncong sendiri sebenarnya bermuara dari musik Portugis yang dikenal dengan sebutan Fado. Awalnya, Fado ini dibawakan oleh para budak dari Afrika yang masuk ke Portugis. Kemudian berbaur dengan budaya Moor dari Afrika dan menjadi musik yang dikenal dengan nama Moresco. Dalam penjelajahan Portugis untuk menemukan sebuah “Dunia Baru”, mereka lantas memperkenalkan juga Moresco di beberapa wilayah jajahannya, termasuk di Indonesia.

Diperkenalkan Pelaut Portugis

Sejarah Keroncong Tugu di Jakarta mungkin setua dengan umur kotanya sendiri. Pasalnya, musik yang sampai sekarang masih sering dipentaskan ini kali pertamanya diperkenalkan oleh para pelaut asal Portugis pada abad ke-16. Adalah sebuah kampung di Jakarta Utara yang bernama Kampung Tugu yang mengembangkan jenis musik keroncong ini sejak tahun 1661 sampai awal abad ke-19.

Di tengah masyarakat kampung Tugu, musik keroncong menemukan bentuknya yang khas, dibandingkan dengan Keroncong Jawa, dari segi tempo keroncong Tugu lebih cepat dan dinyanyikan lebih bersemangat. Pada awalnya jenis musik keroncong ini dimainkan oleh 3-4 orang dengan gitar sambil menyanyikan lagu-lagu melankolis. Jenis gitar yang digunakan mula-mula ada 3 macam, yaitu gitar Frounga ukuran besar dengan 4 senar, gitar Monica ukuran sedang dengan 4 senar, dan gitar Jitera yang berukuran kecil dengan 5 senar. Kemudian dikembangkan serta ditambahkan dengan alat-alat musik lainnya seperti, seruling, rebana, mandolin, cello, dan gendang.

Dalam perkembangannya, orkes-orkes musik Kampung Tugu mulai bermunculan. Salah satunya adalah orkes Keroncong Tugu di bawah komando Fernando Quiko yang memiliki anggota sekitar 4-6 orang. Setiap dalam pentas pertunjukannya, para pemainnya selalu menggunakan syal yang dililitkan di leher masing-masing pemain. Lagu-lagu Keroncong Tugu yang sering bawakan adalah mauresco dan cafrinyo.

Nah, ada suatu masanya saat Keroncong Tugu ini tidak hanya tenar di kampung asalnya saja. Pada zaman penjajahan Belanda, Keroncong Tugu ini sangat digemari dan menjadi primadona. Bahkan musik dari Kampung Tugu ini dapat menghipnotis para Noni-noni Belanda. Tak tangung-tanggung Keroncong Tugu juga diberikan penghormatan untuk mengisi acara-acara pesta bangsa Belanda pada saat itu.

Bahkan sebuah gereja pertama di Kampung Tugu yang dibangun tahun 1678 selalu diiringi musik keroncong dalam setiap acara ritual di tempat itu. Meskipun tidak setenar di awal abad kemunculannya, Keroncong Tugu masih tetap eksis dan masih dapat dinikmati. Samuel Quiko adalah salah satu bagian keluarga besar Fernando Quiko yang masih tinggal di Kampung Tugu dan memimpin Musik Keroncong Cafrinho Tugu. Sebagai generasi ke-7 Keroncong Tugu usahanya tak kenal lelah untuk terus menghidupkan kesenian ini. Bersama 8 orang anggotanya, kelompok Samuel sesekali pentas di berbagai tempat di luar kampungnya. Bagi masyarakat Kampung Tugu sendiri, keroncong sudah menjadi bagian dari hidup mereka.

Article-Page-Search-Widget