Menu

Patung Garuda Wisnu Kencana

Tags: Bali, objek wisata, garuda wisnu kencana, nyoman nuarta

Patung Garuda Wisnu Kencana

Bali, objek wisata, garuda wisnu kencana, nyoman nuarta

Di Bukit Ungasan, Jimbaran, Bali berdiri salah satu karya maestro pematung I nyoman Nuarta. Ukurannya sangat besar dan megah dan tak ada satu mata yang tak akan terperanjat dengan patung yang sekarang menjadi ikon bagi pariwisata Bali ini.

Ya, Patung dengan wujud Dewa Wisnu yang dalam agama Hindu adalah Dewa Pemelihara (Sthiti) mengendarai burung Garuda begitu mempesona. Patung Garuda Wisnu Kencana ini merupakan simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia. Patung ini terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4.000 ton dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter.

Tokoh Garudanya sendiri dapat dilihat di kisah Garuda dan kerajaannya yang bercerita mengenai rasa bakti dan pengorbanan burung Garuda untuk menyelamatkan ibunya dari perbudakan yang akhirnya dilindungi oleh Dewa Wisnu.

Selain itu di kawasan ini juga terdapat Patung Garuda yang tepat di belakang Plaza Wisnu adalah Garuda Plaza di mana patung setinggi 18 meter Garuda ditempatkan sementara. Pada saat ini, Garuda Plaza menjadi titik fokus dari sebuah lorong besar pilar berukir batu kapur yang mencakup lebih dari 4000 meter persegi luas ruang terbuka, yaitu Lotus Pond.

Pilar-pilar batu kapur kolosal dan monumental patung Lotus Pond Garuda membuat ruang yang sangat eksotis. Dengan kapasitas ruangan yang mampu menampung hingga 7000 orang, Lotus Pond telah mendapatkan reputasi yang baik sebagai tempat sempurna untuk mengadakan acara besar dan internasional.

Buah Karya Nyoman Nuarta

Bisa dibilang patung GWK merupakan karya terbesar I Nyoman Nuarta. Patung GWK karya Nyoma Nuarta nantinya bahkan disebut-sebut sebagai patung tertinggi di dunia mengalahkan patung Liberty yang menjadi ikon kota New York, Amerika Serikat.

Nyoman Nuarta lahir di Tabanan, 14 November 1951 pernah kuliahnya di Jurusan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1972. Saat itulah karirnya di dunia seni berawal. Bersama pelukis Hardi, Dede Eri Supria, Harsono, serta kritikus seni Jim Supangkat, Nyoman bergabung dalam Gerakan Seni Rupa Baru di Indonesia pada tahun 1977. Gerakan itu kemudian menjadi salah satu tonggak penting perkembangan seni rupa di Indonesia bahkan telah menerima penghargaan dari Presiden HM Soeharto di tahun 1979.

Pada tahun 1979, ia memenangkan Lomba Patung Proklamator Republik Indonesia yang sekaligus mengantarkannya ke jenjang ketenaran. Sejak itu, anak ke-6 dari 9 bersaudara ini banyak menelurkan karya-karya mengagumkan yang tersebar hampir di seluruh Indonesia.

Lokasi


View Larger Map

Article-Page-Search-Widget