Home

Wisata Sejarah di Belanda Kecil Sawahlunto

Tags: sawahlunto, objek wisata, museum kereta api, gudang ransum, masjid raya sawahlunto

Wisata Sejarah di Belanda Kecil Sawahlunto

Belanda kecil? mungkin Anda akan bertanya-tanya apakah yang dimaksud dengan belanda kecil? karena seperti yang diketahui Belanda merupakan nama salah satu negara yang ada di Eropa dan bentuknya pun tidak kecil. Ok, Belanda kecil yang dimaksud di sini tak lebih sebagai ungkapan dari kota di Sumatera yang bernama Sawahlunto. Kota ini dijuluki sebagai belanda kecil karena banyak terdapat bangunan-bangunan peninggalan Pemerintah Hindia Belanda yang sampai sekarang masih tegak berdiri. Terdapatnya bangunan-bangunan berarsitektural negeri kincir angin ini tak lain merupakan konsekuensi dari geliat aktivitas perekonomian Sawahlunto sendiri yang dulunya berbasis pada sektor pertambangan, khususnya batu bara.

Pemerintah Hinda Belanda kala itu menempatkan Sawahlunto sebagai salah satu pusat tambang di nusantara. Pun seiring dengannya pemerintahan Hindia Belanda banyak mendirikan kantor-kantor administrasi untuk menunjang segi perekonomian kota ini. Sekarang sebagian bangunan-bangunan itu telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah setempat dalam rangka mendorong pariwisata dan mencanangkan Sawahlunto menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya. Sebagai kota wisata, terutama untuk wisata sejarahnya nampaknya Sawahlunto dapat memberikan eskpektasi yang cukup menambah wawasan kesejarahan jika Anda berkunjung ke sana.

Sejarah Sawahlunto sebagai Kota Tambang

Sawahlunto menjelma menjadi kota tambang berawal dari hasil penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli geologi Belanda. Adalah Ir. Willem Hendrik de Greve yang pada tahun 1867 melakukan penelitian di Sawahlunto yang hasil penelitiannya menyebutkan terdapat 200 juta ton batu bara yang terkandung di sekitar aliran Batang Ombilin, salah satu sungai yang ada di Sawahlunto. Melihat adanya komoditas yang menguntungkan, maka Pemerintahan Hindia Belanda mulai secara perlahan membangun sarana dan prasarana untuk menunjang eksploitasi batu bara di Sawahlunto. Sawahlunto pun dijadikan sebagai kota pada tanggal 1 Desember1888 yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Sawahlunto.

sawahlunto, objek wisata, museum kereta api, gudang ransum, masjid raya sawahlunto

Foto:Museum Kereta Api Sawahlunto

Kota ini kemudian mulai memproduksi batu bara sejak tahun 1892. Kawasan pemukiman pekerja tambang tumbuh dan terus berkembang menjadi sebuah kota kecil dengan penduduk yang intinya adalah pegawai dan pekerja tambang. Seiring dengan itu, pada tahun 1889 pemerintah Hindia Belanda mulai membangun jalur kereta api menuju Kota Padang untuk memudahkan pengangkutan batu bara keluar dari Kota Sawahlunto. Jalur kereta api tersebut mencapai Kota Sawahlunto pada tahun 1894. Dengan dioperasikannya angkutan kereta api mulai produksi batu bara di Sawahlunto terus meningkat.

Usaha pertambangan pun memberikan hasil yang positif dari hanya puluhan ribu ton menjadi ratusan ribu ton pertahun dengan laba besar sampai 4,6 juta gulden dalam setahun pada tahun 1920. Pada tahun 1918 Sawahlunto dikategorikan sebagai Gemeentelijk Ressort atau Gemeente dengan luas wilayah 778 ha, hal ini karena ada kaitannya dengan puncak keberhasilan kegiatan pertambangan tersebut. Pada tahun 1930 wilayah ini berpenduduk 43576 jiwa, di antaranya 564 jiwa adalah orang belanda (Eropa). Akan tetapi kejayaan Sawahlunto sebagai penghasil batu bara kini telah pudar, seiiring dengan menurunnya produksi batu bara sejak tahun 2000-an dan kegiatan pengangkutan batu bara dengan kereta api total dihentikan.

Belanda Kecil Sawahlunto

Hampir semua bangunan di Sawahlunto masih mempertahankan arsitektural Belanda mulai dari Gereja, sekolahan, gedung pemerintahan dibangun dengan arsitektur ala barat, bahkan sampai Museum Kereta Api Sawahlunto.Untuk yang pertama ada Museum Kereta Api Sawahlunto, museum ini tadinya merupakan stasiun kereta yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1918sebelum dijadikan sebagai museum. Museum Kereta Api Sawahlunto ini merupakan satu-satunya museum kereta api yang ada di Sumatera Barat dan museum kereta api ketiga di Indonesia setelah Ambarawa dan Museum Transportasi di Taman Mini Indonesia Indah.

Selain Museum Kereta Api, yang kedua ada Gedung Pusat Kebudayaan yang terletak di Jl. Ahmad Yani No. 4. Tak kalah tuanya dengan museum itu, gedung ini juga dibangun pada tahun 1910 dengan nama "Gluck Auf" dan memiliki luas 870 meter persegi.Gedung ini dulunya berfungsi sebagai gedung pertemuan (Societeit), dimana para pejabat pemerintah kolonial pertambangan berkumpul untuk menghibur diri sekaligus berolahraga di salah satu sisi bangunannya yang dijadikan sebagai tempat bermain olahraga bowling dan biliard bagi para pejabat Belanda.

Tak hanya kedua bangunan itu, ada lagi ketiga bangunan yang bernama Goedang Ransum yang kini telah menjelma tidak lagi sebagai tempat dapur umum, melainkan menjadi sebuah museum. Bangunan ini didirikan pada tahun 1918. Seperti namanya, Goedang Ransum dibangun sebagai dapur umum, tempatnya memasak para koki untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi pekerja tambang.

sawahlunto, objek wisata, museum kereta api, gudang ransum, masjid raya sawahlunto

Foto: Goedang Ransum

Sawahlunto mempunyai Masjid Raya Sawahlunto yang bersejarah lantaran sama seperti bangunan-bangunan di atas yang dibangun pada zaman pemerintahan kolonialis Belanda. Tahun 1894 bangunan ini didirikan sebagai pusat energi listrik PLTU (power plan) di Kubang Sirakuak untuk menggerakan berbagai mesin mempercepat proses penambangan dan pengangkutan batubara.

Bangunan ini terus berevolusi perihal fungsi dan peranannya, tempat ini pernah menjadi gudang dan perakitan senjata dimasa revolusi dimana terdapat bungker yang dipergunakan oleh para pejuang kemerdekaan sebagai tempat penyimpanan senjata seperti granat senjata api lainnya. Dan akhirnya tahun 1952 pada bekas bangunan PLTU yang megah itu dibangun Masjid Raya Kota Sawahlunto. Sedangkan bekas menara cerobong asap PLTU yang berketinggian lebih dari 75 meter dijadikan menara mesjid.

Tak ketinggalan, Anda dapat melakukan napak tilas pada areal bekas penambangan yang bernama Lubang Mbah Suro. Lubang ini merupakan tempat penggalian batu bara yang sekarang telah menjadi tempat wisata. Anda akan merasakan sensasi yang berbeda bak pekerja tambang jika menelusuri lubang sepanjang ratusan meter di dalam lubang ini.

ID-Payment-Option

Pembayaran dengan
V
Pembayaran dengan

ID-Other-Destination-Link

SPLASHSCREEN


Or skip this page and