Sekaten Surakarta Solo

Tags: solo, keraton surakarta, sekaten surakarta, culture arts, events schedule, indonesia tourism

Upacara Adat Sekaten Surakarta

Salah satu acara budaya yang secara rutin digelar setiap awal tahun adalah Sekaten Keraton Kasunanan Surakarta. Rangkaian acara yang digelar selama 1 bulan ini telah dimulai pertengahan bulan Desember 2012 hingga 24 Januari 2013 , merupakan acara budaya yang sarat dengan tradisi dan identik dengan munculnya beragam permainan khas pasar malam. Kata Sekaten berasal dari istilah agama Islam, Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Ritual untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW ini dimeriahkan berbagai pertunjukan dan pasar rakyat yang memasarkan souvenir dan kerajinan tangan lainnya. Ada pula pameran benda-benda pusaka di Pagelaran Keraton. Di bangsal Masjid Agung, dibunyikan gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Sekaten pertama kali dimulai sejak masa kerjaan Islam pertama di Jawa,yaitu kerajaan Demak dan turun temurun hingga era kerajaan Surakarta dan Jogjakarta hingga saat ini.

Tabuhan gamelan pusaka menandai dimulainya perayaan maleman sekaten Solo. Gamelan yang ditabuh adalah Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari dengan gending utama Rambu dan Rangkur. Tabuhan gamelan sekaten ini konon adalah kreasi wali sanga pada sekitar abad ke 15, untuk menarik perhatian warga dan melakukan syiar Islam. Karena ditujukan untuk menarik perhatian, gamelan yang dibuat pada jaman kerajaan Majapahit ini oleh wali sanga dirombak menjadi lebih besar dari ukuran gamelan biasa agar suara yang dihasilkan bisa terdengar sampai jauh. Pada pagelaran keraton akan ditampilkan pameran budaya warisan dinasti Mataram dan pameran industri dan perdagangan dari usaha kecil menengah. Benda yang dipamerkan seperti tandu, patung kuda, hingga foto-foto seputar keraton yang jarang dipublikasikan. Ada 48 stan dan sekitar 500 pedagang dari berbagai daerah yang meramaikan Sekaten. Para pengunjung yang datang dapat menikmati berbagai produk, mulai dari makanan, pakaian, gerabah, hingga pecut dan celengan yang menjadi salah satu ciri khas Sekaten. Bagi pengunjung yang ingin menyaksikan, cukup membayar tiket masuk Rp 1.000. Kehadiran Sekaten telah ditunggu-tunggu bagi sebagian warga di Soloraya. Hal ini terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang untuk melihat rangkaian acara Sekaten. Setiap tahunnya kemeriahan acara tradisional Sekaten tidak pernah berubah. Selain dapat melihat peninggalan budaya dan ritual tradisional, para pengunjung pun dapat membeli mainan anak-anak tradional.

Pasar Malam Tradisional

Selain wayang kulit, Sekaten identik dengan suguhan mainan tradisional lainnya seperti alat memasak berbahan tanah liat atau alat gamelan berukuran kecil. Tak ketinggalan, kapal otok-otok pun tampak dijajakan pedagang hampir di setiap pintu masuk menuju Alun-Alun Utara. Kapal otok-otok merupakan salah satu mainan tradisional yang hampir dijual setiap Sekaten ataupun acara pasar malam digelar. Meski model dan cara memainkannya tak pernah berubah, namun kapal itu tak pernah sepi peminat.Termasuk dalam rangkaian kegiatan Sekaten adalah keluarnya seperangkat gamelan Kyai Guntur Madu dan Guntur Sari dari Keraton Surakarta ke Masjid Agung Solo pada 17 Januari 2013. Kemudian selama sepekan ke depan, setiap usai salat Zuhur hingga menjelang waktu salat Asar, kedua gamelan dibunyikan.

Sebagai puncak Sekaten, pada 24 Januari 2013 akan digelar Grebeg Mulud. Sebanyak dua gunungan laki-laki dan dua gunungan perempuan diarak dari dalam keraton ke Masjid Agung Solo, kemudian dibagikan ke masyarakat yang hadir. Rangkaian ritual adat Grebeg Maulud secara lengkap adalah :

1. Tabuhan Gamelan Pusaka Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Memboyong gamelan pusaka dari keraton ke Masjid Agung Solo kemudian menabuh gending Rambu dan Rangkur sebagai prosesi Pembuka Maleman Sekaten. Ritual ini dilakukan pada tanggal 5 Mulud (Tahun Jawa). Kedua gamelan terus ditabuh hingga menjelang pelaksanaan Grebeg Gunungan Sekaten tujuh hari kemudian.

2. Jamasan Meriam Pusaka Kyai Setomi Menjamasi (membersihkan) meriam pusaka yang terletak di Bangsal Witono, sitihinggil utara Keraton Kasunanan Surakarta. Dilakukan 2 hari sebelum Grebeg Gunungan Sekaten.

3. Pengembalian Gamelan Pusaka ke dalam Keraton. Pagi hari sebelum pemberian sedekah Raja, para abdi dalem keraton memboyong kembali gamelan pusaka dari Masjid Agung.. Gamelan Kyai Guntur Madu langsung dimasukkan ke dalam ruang pusaka, sedangkan Kyai Guntur Sari dibawa ke depan Sasana Sewaka. Kyai Guntur Sari akan dibawa dan ditabuh kembali untuk mengiringi Hajad Dalem Gunungan Sekaten ke Masjid Agung.

4. Pemberian sedekah Raja berupa gunungan di Masjid Agung Raja Sinuhun Pakoeboewono memberikan sedekah kepada rakyatnya berupa makanan tradisional dan hasil bumi yang disusun dalam bentuk gunungan jaler (laki-laki) dan estri (perempuan). Gunungan ini akan diarak menuju Masjid Agung diiringi oleh seluruh sentana dan abdi dalem, para prajurit serta gamelan Kyai Guntur Sari yang dimainkan sambil berjalan. Gunungan ini akan didoakan oleh ulama Keraton di masjid Agung kemudian dibagikan kepada seluruh warga. Grebeg Gunungan digelar bersamaan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yakni tanggal 12 Mulud (Tahun Jawa).

Kini, selain tetap memelihara syiar Islam, Maleman Sekaten juga ditujukan untuk kepentingan ekonomi dan pariwisata. Rangkaian ritual adat sekaten atau lebih dikenal sebagai Grebeg Maulud tetap dipelihara dengan baik sebagai tradisi leluhur juga sebagai acara untuk menarik para wisatawan. Sementara Maleman sekaten diperpanjang menjadi satu bulan untuk memberi keuntungan ekonomi bagi para pedagang dan masyarakat sekitar. Sekaten sudah menjadi salah satu penarik wisatawan untuk datang berkunjung ke Solo. Apalagi awal Sekaten bersamaan dengan libur tahun baru 2013. Sekaten diselenggarakan di alun-alun utara Keraton Kasunanan Surakarta terletak di pusat kota Solo, yaitu dikelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta Jawa Tengah.